FH UNTAG Surabaya Tanamkan Anti Radikalisme
![]() |
| Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby |
Kamis, (26/9) Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menggelar Seminar Call for Paper. Bertempat di Meeting Room Gedung Graha Wiyata seminar ini diikuti oleh mahasiswa/i dari lintas angkatan. Dekan FH UNTAG Surabaya-Dr. Slamet Suhartono, SH., MH. Menuturkan pada saat memberikan sambutan, “Tema ini bukan tanpa alasan, apalagi narasumber kompeten di bidang ini. Kami sudah berembuk terkait masalah nasionalisme di era sekarang. Semoga memberi semangat baru bagi nasionalisme mahasiswa. Akhir-akhir ini banyak paham radikalisme yang merongrong persatuan dan bisa berbahaya bagi NKRI. Tujuan seminar ini untuk menumbuhkan dan membangkitkan nasionalisme. Sehingga menjadi bahan renungan mahasiswa dalam menghadapi masa depan bangsa.”
Dwi Rubiyanti Kholifah tampil dengan materi bertajuk ‘Mitigasi Radikalisme bagi Kaum Muda’. Ruby yang pernah masuk sebagai 100 perempuan dunia berprestasi versi BBC pada 2014 mengatakan, “Anak muda mudah terpapar radikalisme karena tahap pencarian jati diri sangat kuat. Apalagi sekarang hidup di jaman yang semua mudah diakses sehingga melahirkan budaya instan. Akar radikalisme adanya tekanan politis dari pemerintah. Sebab, menguatnya radikalisme memicu kian menjadi-jadinya budaya kekerasan berbasis literasi.” Aktivis Asian Muslim Action Network ini mengatakan, “Para radikal dan ekstrimis terutama ISIS konsisten menggunakan narasi yang menjanjikan. Hal ini memungkinkan untuk masuk ke dalam jebakan. Saya memaparkan fakta lapangan agar teman-teman punya sense kehati-hatian.”
Tak hanya Ruby, materi ‘Nasionalisme Era Revolusi Industri 4.0’ disampaikan oleh Dipo Wahjoeno, SH., M.Hum. “Anak muda zaman saya dan zaman teman-teman tentu berbeda. Sekarang hidup di zaman yang serba mudah. Sebagai generasi milenial di Era Revolusi Industri 4.0 harus pandai memilah informasi. Hoax merajalela dan berpotensi pada perpecahan. Belum lagi radikalisme yang kian merajalela.” Menurutnya sebagai mahasiswa Kampus Merah Putih harus memerangi radikalisme. “Kita harus memegang teguh 4 pilar kebangsaan sebagai perekat bangsa Indonesia. Generasi milenial harus memanfaatkan teknologi dengan bijak, misalnya tidak mudah percaya pada informasi yang belum tentu kebenarannya dan jangan mudah mengikuti ajakan yang tak jelas. Bisa jadi itu berujung pada radikalisme,” kata Dipo di akhir pemaparannya. (um/ze)
| www.untag-sby.ac.id |

Komentar
Posting Komentar